Image hosting by Photobucket

Curiosity is a bridge for a knowledge

Monday, March 20, 2006
Amien Rais Menguak Freeport
Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport"

Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais. Penampilannya yang
sederhana, dan keberaniannya dalam mengeritik penguasa, masih tetap
melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan mengeritik penguasa, Amien tak
main-main.

Belakangan, lelaki kelahiran Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali
melakukan gebrakan. Isu lawas soal korupsi, perusakan lingkungan dan
penjarahan besar-besaran yang dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan
pertambangan asing, kembali ia gulirkan. Dulu pada tahun 90-an,
kritiknya soal Freeport menyebabkan ia 'ditendang' dari Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) oleh Suharto.

Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur tembok tebal. Banyak
pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini dan kepentingan
asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai Hutapea, mantan Ketua
MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport. Berikut wawancara
lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat rumahnya di Condong Catur,
Yogyakarta, pada Selasa (31/01).

Apa yang melatarbelakangi Anda kembali berteriak lantang soal Freeport?

Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa menerima sebagai
anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing yang
mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan secara
sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu saya
berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan dibuka di
Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi kenyataan,
maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang aduhai.
Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka. Kemudian
setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan Busang
itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan oleh PT
Freeport McMoran disekitar Timika. Saya mendasarkan kritik saya bukan
hanya kata si Fulan dan si Fulanah, atau berdasarkan qaala wa qiila,
tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport itu. Bahkan
saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi selama
setengah hari keadaan pertambangan itu.

Sebagai seorang anak bangsa saya betul-betul tidak bisa menerima bahwa
ada wilayah kita yang diacak-acak oleh perusahaan Amerika secara sangat
menghina, karena sebuah gunung sudah lenyap menjadi danau yang sangat
jelek. Kemudian entah berapa luasnya tanah sekitar pertambangan sudah
rusak total. Saya juga melihat dengan mata kepala ada pipa besar yang
dipasang dari pusat pertambangan di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu
turun kebawah sepanjang seratus kilometer sampai ke tepi laut Arafura.
Kemudian ternyata pipa itu untuk menggotong concentrate atau biji
tambang emas, perak dan tembaga yang kita tidak pernah tahu volume atau
jumlahnya. Apalagi saya diberi tahu bahwa jelas kali Freeport itu
menggelapkan pembayaran pajaknya. Begitu saya mengungkpa kenyataan ini
sebagai sebuah kenyataan yang bertentangan dengan UUD 45, maka dua
minggu kemudian (tahun 1993, red) saya ditendang dari ICMI oleh pak
Harto. Setelah itu nampaknya Freeport sebentar melakukan konsolidasi,
tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas satu persen dari
keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat sekitar. Tapi yang
dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan wilayah yang
dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah biji tambang
yang diangkut ke luar lebih banyak lagi. Selama Saya jadi Ketua MPR hal
ini tidak pernah saya pantau. Saya pernah dibujuk oleh James Moffett
pada musim panas tahun 1997 waktu saya ada di Washington. Dia terbang
ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya. Kata dia, kalau mau saya
akan diantar naik helikopter untuk tour ke daerah pertambangan Freeport,
dan saya akan diberi keterangan bahwa Freeport tidak merusak ekologi
atau lingkungan kita.

Kemudian pada saat bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry
Kissinger. Ternyata dia salah satu Komisaris, dan dia dengan
diplomasinya mengatakan, "Kalau Anda melihat penyelewengan hukum, maka
beri tahu saya. Saya akan mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu
tentu saja hanya sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport
makin gila menjarah kekayaan kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu
yang ikhlas, bukan niat oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama
membongkar kejahatan di Freeport ini. Telah terjadi korupsi yang maha
dahsyat di dunia pertambangan? Korupsi itu diartikan sebagai tindakan
yang merugikan negara lewat penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi
korupsi yang dimengerti oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu
penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara.
Yang terjadi di Freeport itu memenuhi kriteria itu secara sangat telak.
Negara dirugikan dalam jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun
sejak akhir tahun 60-an. Anda bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian
sudah dihitung bahwa volume ampas pertambangan, tailing, tanah, batu
kerikil yang terbuang itu sama dengan dua kali kerukan terusan Panama,
sekitar 6 miliar ton. Ini sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali,
kalau Freeport sebagai perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi,
maka yang kecil-kecil seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan
Gas Tangguh, dan lain-lain akan lebih bias diperbaiki karena si babon
itu telah lebih dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan
mengacak-acak kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional,
maka saya khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita
masih seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani mengangkat
kepala terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha
dahsyat ini harus kita lawan.

Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah mengusut
korupsi kelas ecek-ecek?

Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil, yang ratusan
juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan yang
besar-besar. Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri.
Dan memang rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah
hebat dalam memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut
Political and Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap
nomor satu dalam korupsi di kawasan Asia ini. Artinya, korupsi sejati
masih tetap berlangsung. Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi
kecil-kecilan, sehingga media massa juga terkecoh, seolah-olah telah
terjadi penanganan korupsi secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal
yang terjadi kucing-kucingan. Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport
ini G to G (Goverment to Goverment). Bisa dijelaskan? Memang ada
pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis yang juga melibatkan
pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti diungkapkan oleh The
New York Times, kemudian dimuat secara utuh di The International Herald
Tribun tanggal 28-29 Desember 2005. Memang yang mengamankan penjarahan
kekayaan bangsa itu adalah aparat keamanan dan pertahanan kita. Saya
tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih dikatakan ada seorang
mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan ada seorang
perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu dollar. Kemudian ada
kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat amplop dari Freeport
untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan mengetahui hakikat
kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak tahun 1996 sampai
tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan 20 juta US dollar
yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat keamanan kita untuk
melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk kekayaan kita. Ini
yang saya heran kenapa kok dibiarkan.

Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing?

Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di Freeport ini.
Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi korporatokrasi yang
cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon Perkins bahwa
korporatokrasi itu ada tiga pilar, yaitu: Big coorporation, Goverment
dan International Bank. Tiga elemen ini berpacu untuk melakukan
pengurasan kekayaan dunia ketiga. Nah, disini ada negeri-negeri yang
berani mengangkat kepala dan berani mengatakan No! Terhadap
korporatokrasi itu, seperti Thailand, India, RRC, Malaysia. Kita
termasuk negeri yang walaupun tidak mengatakan Yes! Tapi tidak pernah
mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak asing menjamah kekayaan
negeri kita. Saya pernah ceramah di Melbourne, saya bertanya kepada
perusahaan penambangan Australia, apakah salah saya sebagai orang
Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya itu royalti yang kita
terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen. Mereka mengatakan tidak ada
yang salah dengan pendapat itu karena semau tergantung dengan
perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja diberi 15 persen, itupun saya
yakin sekali pembukuannya sudah tidak betul, karena kita tidak tahu apa
yang terjadi disana.

Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika kita harus
lepas dari Freeport?

Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah
diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin, mereka
bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15 persen, ini
kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan zaman
penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian, bawa modal,
kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk
pantes-pantesan saja. Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga
Insya Allah sudah punya keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan
lain-lain yang mengatakan bahwa Freeport itu adalah pertambangan
terbuka, tidak usah menggali perut bumi, tetapi hanya memecah
batu-batuan, lantas digerus dijadikan biji tambang, kemudian jadi
concentrate, kemudian menjadi batangan emas. Ini sangat mudah. Kata
mereka, otak Indonesia itu lebih mampu, mengapa diberikan kepada
Freeport.

Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek pelanggaran yang
dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan?
Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia moral dan
hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of crime of
commission (Melakukan perbuatan dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of
ommision (Dosa membiarkan kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di
depan matanya berlangsung kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing,
tetapi diam saja, malah memberikan peluang untuk berlangsungnya
kejahatan itu, maka pemerintah kita telah melakukan kejahatan atau dosa
membiarkan sebuah kejahatan berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya
melihat seorang perampok melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka
saya termasuk melakukan kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa.
Saya khawatir pemerintah kita dari masa ke masa kalau terus menjadi
pemerintah komprador, yang meladeni kepentingan asing yang merugikan
bangsa, maka pemerintah itu telah melakukan kejahatan. Disadari atau
tidak.

Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan martabat
bangsa?

Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya menggelindingkan masalah
besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan bangsa dan masa
depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi gerakan politik
yang remeh temeh, apalagi ada dagag sapi. Itu selain lucu, terhina. Ini
adalah proyek besar menyelamatkan bangsa.

Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus Freeport dan lainnya
saat ini?

Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu berujung pada sebuah
bangsa kehilangan kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun dirinya
sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa kita
kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi nasional,
kita pernah mendatangkan 'dukun' IMF. Sekarangpun utang kita sudah
menjerat kita. Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman
IMF. Karena menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya
itu orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah, kita
ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World Trade
Organization, red). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada, Amerika, itu
petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap
menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan. Kita ini jadi
bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita lakukan,
impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada kedaulatan
lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain seperti
Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan kepala
terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga demikian, India,
Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan
negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak lucu.
Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih seperti
inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat, tanpa
tekanan pihak manapun.

Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu ini, misalnya modal
Anda di 2009 nanti?
Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang menyatakan,
"Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh-sungguh ini,
hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak Ginandjar
Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh ini. Tetapi
kita diajarkan oleh al-Qur'an, Faidza 'azamta fatawakkal 'alallah,
kalau sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau diperjalan
ada pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali. Nabi
yang sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien
Rais. Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahyi munkar.
Kalau kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi
itu. Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya
banyak mengambil i'tibar (pelajaran,red) bahwa pemimpin itu harus
istiqamah, jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik, red).

Riwayat Freeport dan kiprahnya di bumi Papua...

Tahun 1936, secara tak sengaja, para peneliti dari Belanda yang hendak
melihat kondisi es di puncak pegunungan di Papua, menemukan kekayaan
tembaga dalam jumlah melimpah...Oleh sang peneliti, lokasi tersebut
dipetakan, namun karena pemerintah Belanda tidak tertarik mengelolanya,
akhirnya catatan tentang keajaiban bumi Papua itu "tidur" di
perpustakaan Belanda saja.

Freeport, yang berdiri pada tahun 1912, pada awalnya hanyalah perusahaan
"sederhana" penambang belerang saja, yang kemudian mengembangkan
sayapnya dengan membuka pertambangan Nikel di Kuba pada tahun 1940.
Namun kemudian tambang Nikel ini diambil paksa oleh Fidel Castro.
Setelah hasil dari berbagai tambang mereka mengalami penurunan, (entah
bagaimana) berbekal catatan peneiliti Belanda, tahun 60-an mereka
menelusuri bumi Papua...

Alangkah menakjubkannya, karena di situ ditemukan kandungan tembaga 13
juta ton di atas permukaan tanah (tinggal ngeruk doang, gak perlu
capek-capek menggali) dan 14 juta ton di perut bumi!!! Luar biasa, dan
ini menjadikan Tembagapura menjadi TAMBANG EMAS KETIGA TERBESAR DI
DUNIA. Tahun 67, mereka menandatangani kontrak karya dengan Pemerintah
Indonesia, dan diberi hak kelola selama 30 tahun, walau saat itu Papua
belum resmi jadi milik Indonesia (inipun konon diperdebatkan juga
keabsahannya, menyangkut status Papua saat itu).

Tahun 1972, Freeport melakukan ekspor perdana konsentrat tembaga. Karena
saat itu USA sedang berperang habis-habisan dengan Vietnam, harga
tembaga melangit, dan penambangan tembaga digenjot besar-besaran.
Alhasil Freeport menangguk keuntungan yang sangat besar, dan menjadi
perusahaan raksasa nan kaya raya...

Dengan kekayaannya itulah Freeport mengakuisisi Mc Moran Oil and Gas,
dan mengubah namanya sendiri menjadi Freeport Mc Moran...Gunung Rumput
di Tembaga Pura, yang boleh disebut pula sebagai Gunung Emas, mulai
dikelola oleh Freeport pada tahun 1988...Kandungan emas di gunung ini
sebenarnya juga telah ditemukan tahun 1936 oleh peneliti Belanda
tersebut, namun konon Freeport lebih tertarik mengelola tembaga (ahhhh,
orang bodoh juga bilang emas lebih mahal dan lebih menarik dan
menguntungkan daripada tembaga, makanya emas, dan bukannya tembaga, yang
disebut logam mulia)... Setelah tambang tembaga-nya adalah yang terbesar
ketiga di dunia, tahukah anda bahwa tambang emas di Freeport itu
ternyata kini merupakan TAMBANG EMAS TERBESAR DI DUNIA!!!

Tahukah anda berapakah keuntungan yang di dulang Freeport dalam 3 tahun
terakhir ini?

Baca yah, ini LABA BERSIH dari Freeport, dan bukan sales ataupun laba
kotor.

Tahun 2002 NETT PROFIT-nya adalah US$ 127 million, alias 1,27 trilyun
rupiah.
Tahun 2003 NETT PROFIT-nya menjadi US$ 162 million alias 1,62 trilyun
rupiah.
Tahun 2004 NETT PROFIT-nya melompat ke US$ 934 million, alias 9,34
trilyun rupiah.

(Itu yang dibukukan lho, gak tau yah kalo laporan keuangannya dikadalin
juga).

Bagaimana dengan tahun ini dan seterusnya??? Gak bisa dipungkiri lagi,
keuntungannya akan menggila...Pada Januari 2001, harga Tembaga hanyalah
US$ 2.13/kg saja. Pada Januari 2005, harga Tembaga sudah menjadi US$
3.70/kg dan kini meroket (pada Januari 2006) menjadi US$ 5.43/kg alias
250% dibanding 5 tahun
sebelumnya!!!

Harga emas pada awal 2001 masih sekitar US$ 9000/kg, meningkat menjadi
US$15900/kg di awal tahun 2005, dan kini melangit sampai ke US$
18900/kg!!!

Jangan ditanya berapa besarnya keuntungan yang dikeruk oleh tambang emas
terbesar di dunia dan tambang tembaga terbesar ketiga di dunia saat
ini...(mengenai harga metal, cek aja di www.kitco.com dan www.lme.com).

Tahukah anda, berapa besar saham kita Pertambangan Paling Ajaib di dunia
tersebut??? 81.2% sahamnya adalah milik Freeport Mc Moran...Pemerintah
kita melalui PT Freeport indonesia hanya memiliki 9.4% saham saja!!!
Sisa saham sebesar 9.4%, dimiliki oleh Indocopper Investama, yang
ternyata 100% saham perusahaan ini dimiliki oleh Freeport Mcmoran
juga!!! Janjinya tahun 2005, saham Indocopper akan dilepas semua oleh
Freeport, tapi kini tahun 2006 sudah memasuki bulan ketiga, tetap saja
dipegang oleh Freeport (ada apa nih?)...

So, intinya, 91,6% dimiliki oleh Freeport Mc Moran, dan Pemerintah kita
cuma punya saham sebesar 9.4%!!! Lantas berapa yang sampai ke rakyat
Papua, yang kini meradang, karena walaupun ditempati oleh tambang luar
biasa itu namun hidupnya tetap melarat??? Gak tau dehh, udah pasti
dipotong sana sini alias dikorupsi diberbagai level.

Air pancuran gunung yang sedemikian melimpah dan nikmat, mungkin hanya
setetes saja yang bisa mereka reguk, begitu mungkin
perumpamaannya...Walau kontrak Freeport rencananya habis tahun 1997,
pada tahun 1991, kontrak tersebut diperbaharui dan Freeport mendapat
lisensi baru untuk mengelola selama 30 tahun, plus opsi 2 x 10
tahun...Dengan demikian Freeport berhak bertengger di bumi Tembagapura
secara resmi sampai dengan tahun 2041!!! Mungkin mereka akan terus
bercokol di sana, sampai mereka menyadari bahwa bumi Tembagapura sudah
habis dikeruk dan gak ada lagi yang bisa diberdayakan...Di saat itulah
mungkin mereka akan mengembalikan ke kita, yang cuma bisa meratapi
kebodohannya saat itu...Hmmm, saya cuma bisa geleng-geleng kepala
manakala mengetahui fakta-fakta
ini...Boleh jadi fakta-fakta lain yang masih tersembunyi akan lebih
mengagetkan dan menyayat hati ini yang sedang pilu melihat nusantara, si
kaya yang miskin, yang terus-menerus dilanda oleh bencana...

Dalam hati saya menangis bathin, menangis bathin karena 2 hal:

1. Ingin menyaksikan Indonesia yang gemah ripah lon jinawi, tata
tentrem kerta raharja. Mungkin, walau kini masih berpijak di seberang
sini, saya terlalu cinta Indonesia, sehingga gak tega melihat rakyat
sana menderita, namun saya belum mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya
(sorry nihh pribadi banget yahh)...

2. Sakit hati menyadari mengapa kita ini begitu bodoh dan
dibodohi-bodohi orang. Kita begitu kaya potensi hartanya, namun begitu
miskin jiwa dan pikirannya.

Apa yang terjadi dengan kita, sebagai contoh dengan kasus Freeport
ini???
Apakah karena kita ini terlalu bodoh, tidak punya pengetahuan, skill dan
teknologi, hingga akhirnya memasrahkan tambang ajaib itu untuk dikelola
bangsa lain dan hanya pasrah menikmati remahan-remahan hasilnya saja?
Apakah karena ada pembesar-pembesar kita yang hatinya busuk, tega
menjual negara, dan mengantongi komisi pribadi hanya untuk menggendutkan
perutnya sendiri (laknat banget!!!).
Apakah karena kita terlalu naif dan mental terjajah, hingga dengan mudah
bisa "dibohongi" oleh kaum dari negeri matahari senja sana???

Masih banyak kasus-kasus sejenis di berbagai belahan nusantara, di mana
kekayaan alam kita dikeruk dan kita cuma dapat serpihan tak berarti yang
cuma bisa buat mengganjal perut saja...

ENOUGH, IT'S ENOUGH, marilah kita didik anak-anak kita, masa depan
negeri kita, agar kelak jadi anak yang cerdas dan mampu menguasai
teknologi dan memiliki skill
dan pengetahuan yang luar biasa untuk mengelola hasil kita demi
kesejahteraan kita sendiri...

ENOUGH, IT'S ENOUGH, cukuplah sampai generasi kita saja yang bodoh dan
dibodoh-bodohi orang sedemikian rupa, bagai kerbau dicunguk
hidungnya...Berpikir dan berkata saja mungkin tidak akan menyelesaikan
masalah ataupun mengubah kondisi...Planning yang baik, niat
sungguh-sungguh dan karya nyatalah yang akan sanggup membalikkan semua
keadaan, tentunya disertai dengan sikap Tawakkal
kepada-Nya...
posted by nasindo @ 9:21 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 

Navigations

Aku sederhana saja
nas
Last Entries

Archieves
The one who try to set the sun
myspace layouts
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. Aenean viverra malesuada libero. Fusce ac quam.
talk to me, my friend
  • Sa
  • mona
  • chia
  • Sa
  • nas
  • Image Hosted By
    Designed-By

    Visit Me Klik It

    Credite

    15n41n1

    TODAY

    Free Web Counter
    Free Hit CountereXTReMe Tracker